Menikah Dengan Setan - Part 5

MENIKAH DENGAN SETAN

PART 5

Rembulan malam tertutup awan gelap, kamar Halimah malam itu terlihat lebih gelap dari biasanya, setelah semalam ia resmi menjadi istri sah dari Rhandra Abyakta pikiran liar terus menghantuinya, ia membayangkan laki-laki itu akan datang kekamarnya dan mencabik-cabik kehormatannya, seluruh tubuhnya berkeringat, kepalanya terus menggeleng-geleng memikirkannya ia terus berdoa agar Laki-laki yang kini menjadi suaminya itu tidak merenggut kesuciannya malam ini.

“Deg..deg..” Suara langkah kaki itu menuju kamarnya, malam itu sudah pukul satu malam dan Halimah masih terjaga karena khawatir, Halimah merespon ia berlari menuju arah pintu, ia menarik nakas yang berada disebelah tempat tidurnya lalu ia rapatkan dipintu dengan rapat, dan benar kenop pintunya berputar, dorongan kuat dari arah luar untuk membuka pintunya tak bisa ia bendung, Halimah terlempar, Rhandra mendorong pintu yang terhalang oleh nakas.

“Apa yang kamu lakukan!” rutuknya kesal melihat kelakuan Halimah.

“Mau apa kamu?”

“Kenapa, aku suamimu sekarang aku bebas mau melakukan apa saja denganmu?”  Rhandra mendekat, rambutnya terurai acak-acakkan seperti biasa, janggut juga alisnya begitu tebal.

“Jangan mendekat, atau aku akan berteriak!”

“Teriak saja, tidak ada yang akan dengar!”

“HAAAAAAAPPP!” Halimah berteriak dan seketika Rhandra menutup mulutnya dengan tangannya yang kekar.

“Berani sekali kamu rupanya ya!”

“Mmmmm..” Halimah menangis, mulutnya masih tertutup tangannya.

“Ini..!” Rhandra melemparkan pakaian padanya, “ganti pakaianmu itu, pakaianmu sudah tak layak.” Halimah memang belum berganti pakaian dari kemarin, ia masih Nampak kacau, debu pun masih menempel ditubuhnya, ia tak ada gairah untuk membersihkan diri.

Halimah memeluk pakaiannya dengan erat seraya menangis.
“Dengar baik-baik, aku tidak akan memaksa untuk masuk kekamarmu, kamar kita terpisah, tapi jangan sesekali kamu mengunci diri seperti malam ini, karena aku bebas masuk kekamarmu kapanpun aku mau, jika terulang habis kau.!” Ia merutuk kemudian beranjak keluar

“Tunggu!” halang Halimah. Rhandra berhenti membelakanginya.

“Terimakasih.. apa yang kamu berikan untuk keluargaku itu sangat berarti untukku, terimakasih.” Ujar Halimah, sejujurnya disaat semua orang menjadi penjahat baginya Rhandra bagaikan sinar yang menolongnya dari kegelapan, ia cukup terharu akan kebaikannya, meskipun ia terluka dengan pernikahan yang sama sekali tak ia inginkan.

Rhandra pergi tanpa menjawab sedikitpun, ia tinggalkan Halimah dengan pintu terbuka dan kunci yang menempel dari arah dalam.

Halimah berbaring diatas ranjang, tubuhnya meliuk ketakutan suasana kamarnya begitu gelap hanya ada dua cahaya yang berasal dari lampu minyak yang tak begitu terang. Ia menangis terus menerus meratapi nasibnya, ia bagaikan rembulan yang terkungkung malam, tak bisa bergerak, ingin menjerit pun tak akan ada yang mendengar.

Halimah melamun, pikirannya melayang ke Haikal laki-laki yang beberapa hari lalu telah membebaskan ikatan dengannya, semudah itu dia membebaskan ikatannya, jika tidak ada yang memfitnahnya mungkin saat ini ia adalah wanita yang paling bahagia didunia, memiliki laki-laki yang sholih juga tampan dan mapan, namun nasibnya tak seberuntung rupanya, Allah mungkin menganugrahkannya wajah yang cantik, namun kecantikkan tak bisa merubah nasibnya, kecantikkan tak mampu membahagiakannya, bahkan karena kecantikkannya itulah ia jadi sumber fitnah.

Halimah terus menangis meratap.

“Allahuakabar..Allhuakbar..!” Alunan adzan terdengar ditelinganya, Halimah bangkit suara adzan dari surau didesanya terdengar merdu hingga kekamarnya, tiada tuhan selain Allah, tiada kekuatan selain hanya milikNya. Ia menatap ke arah kamar mandi yang begitu gelap, tak ada cahaya sedikitpun disana, sisi kanan-kiri kamar menuju kamar mandi pun terlihat sangat menyeramkan,  ia membawa lampu minyak bersamanya ia menuju arah kamar mandi, “Bismillah.” Ada suara-suara asing ditelinganya ia hiraukan begitu saja, ia yakin semua itu akan hilang hanya dengan doa juga sholat yang ia dirikan diruangan ini.

Pagi menjelang, suasana Gedong tua Nampak asri dari arah jendela kamarnya, matahari mulai memancarkan sinarnya, wajahnya terasa hangat tersiram cahayanya.  Halimah menatap keluar kamar, biasanya dijam yang sama ini ia melintas didepan Gedong tua, ia menatap keluar dan benar jalanan yang selalu ia lewati berada persis dibawah, ia bisa melihat desanya lewat kamar ini pula, hatinya sedikit terhibur.

Ia teringat beberapa waktu lalu, ia sempat melihat seseorang dari tempat ia berdiri saat itu “Di tempat inikah Rhandra memperhatikan saya?” batinnya bertanya.

“Pagi Non..!” Mbok Sum datang membawa segelas susu dan sarapan, roti berisi sayuran didalamnya.

“Terimakasih mbok.”

“Non, mata non gelap sekali.”

“Saya tidak bisa tidur mbok, sudah dua malam ini saya terjaga, terakhir saya terlelap adalah saat dimana saya memeluk adik saya Sur di Rumah Sakit.”

“Ya ampun Non, Non harus tidur, kalau tidak sakit.”

“Entah kenapa mbok, ruangan ini terlalu besar untuk saya, saya tidak terbiasa.”

“Non takut?”

Halimah mengangguk.

“Yang sabar ya Non, kalo Non takut Non teriak saja panggil saya.”

“Kalo mbok yang dateng, kalo Monster itu gimana?”

“Hahahhaa.. Den Rhandra memang kayak Monster ya non?”

Sekejap ruangan itu menjadi hangat, Halimah dan Mbok Sum tertawa hebat didalam, sebelumnya tak pernah ada tawa, tak pernah ada keceriaan dirumah itu, yang ada hanya ketegangan yang menghantui seisi rumah.

Hari itu Halimah berusaha untuk tegar, ia tak lagi bersedih ia berusaha menerima Rhandra sebagai suaminya, ia yakin Allah tak akan memberikannya cobaan seberat dari apa yang tak bisa ia jalani, ia pun bekeyakinan bahwa ia adalah orang baik, maka Rhandra seharusnya pun orang baik ia teringat akan sebuah nasihat yang pernah ia dapatkan di surau

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26).

.Sore itu setelah sholat ashar, Mbok Sum datang kekamarnya.

“Non.. mau ikut mbok berkeliling?”

“Keliling Rumah mbok? Mau mbok.”

Mbo sum menunjukan juga mengenalkan isi rumah yang ia kenal dengan sebutan Gedong tua padanya, mereka mulai melangkah dari ruang depan, diruang depan terdiri dari dua set sofa, yang satu berada dijung dan yang satunya persis dekat dengan pintu masuk, ada kursi tua santai gaya belanda satu buah didalamnya, kursi itu yang dipakai Rhandra malam lalu. Lanjut mereka keruang tengah, sebuah meja marmer bundar dengan vas bunga besar diatasnya, di ruang tengah ini terdapat beberapa foto-foto, jika dilihat foto-foto itu cetakkan 20 atau 30 tahunan lebih .

”Rhandra yang mana mbok?”

“Tidak ada Den Rhandra disitu non,, yuk kita lanjut.” Ajak Mbok Sum.

Halimah memasuki sebuah lorong untuk masuk keruangan berikutnya disisikanan lorong adalah sebuah tangga yang menghubungkannya ke lantai dua dan tiga, kamarnya berada di lantai dua, sedangkan kamar Rhandra berada di lantai tiga, lantai tiga adalah daerah terlarang, siapapun kecuali Mbok Sum yang bisa naik dan mengantarkan makanan hanya sampai depan pintu. Lantai tiga itu jika digambarkan oleh Mbok Sum seperti loteng, bangunan ini memiliki tiang-tiang yang tinggi, gaya arsktekturnya pun seperti rumah-rumah di eropa. Jika bukan seorang bangsawan, siapapun tidak bisa membangun rumah selua dan semegah ini.

Halimah masuk keruang makan, disana ia bisa melihat meja panjang yang sangat unik terbuat dari ukiran jati berwarna hitam, disisi kanan kirinya terdapat rak rak buku, hampir semua ruangan memiliki jendela yang besar hingga saat pagi hari, rumah tidak terlihat menyeramkan.

Setelah ruang makan ia kembali melewati sebuah lorong, ada ruang keluarga disisi kanan, dan disisi kiri sebuah balkon yang menghadap ke sebuah taman, persis dihadapannya ada kolam air mancur kecil yang sudah berlumut dan tak terawat.

“Ini Kamar saya non, dan disebelah sana dapur.”

“Luas sekali ya mbok.”

“ya.”

“Bagaimana bisa rumah sebagus ini bisa menjadi rumah yang tak terawat? Bahkan banyak yang bilang ini adalah rumah hantu.”

“Kemari Non.” Mbok Sum menariknya untuk duduk diatas kursi di dapur.

“Den Rhandra memang sengaja membuat seisi rumah ini terlihat angker, dia tak ingin siapapun tau keberadaannya dirumah ini, untuk itu saya mohon dengan sangat pada non, tolong jangan beritahu siapapun tentang Den Rhandra.”

“Tapi kenapa Mbok?”

“Mbok ngga bisa menjelaskan lebih jauh Non, jika waktunya tepat Mbok yakin Aden akan cerita banyak dengan Non.”

“Non, Den Rhandra itu anak yang baik, yakinlah Non.” Mbok Sum menangis.

“Mbok,,”Halimah terharu, ia pun merasakan hal yang sama dengannya, entah dari mana asalnya hati kecilnya selalu berkata bahwa Rhandra adalah laki-laki yang baik, ia bisa melihat dari sinar matanya meskipun gelap disana, namun ada keteduhan yang bisa membuatnya merasa aman.

“Non, dirumah ini non bebas melakukan apapun, kecuali”

“Kecuali apa mbok?” potong Halimah.

“Non tidak boleh kelantai tiga, Non juga tidak boleh keluar disiang hari, Non tidak boleh ke sisi selatan pekarangan rumah, itu terlarang. Non harus menjaga diri dari orang lain, buat seolah-olah rumah ini tak berpenghuni non.”

“Kenapa begitu menyeramkan sekali mbok, kenapa?”

“Itu aturan yang Den Rhandra buat, non patuhi saja.”

“Jadi maksud si mbok, saya akan selamanya didalam rumah ini, saya juga tak bisa mengunjungi bue saya?” Lanjut Halimah terkejut.

“Sebaiknya begitu.”

“Rumah macam apa ini mbok. Tidak ada kebahagiaan didalamnya, saat ini saya sangat merindukan keluarga saya mbok, saya ingin tahu kabar mereka, meskipun saya tau mereka sudah mendapatkan tempat yang layak, tapi saya berhak tau mbok, jika bertemu dengan keluarga atau orang lain saja saya tidak boleh lalu bagaimana bisa saya tidak menyesali pernikahan saya.!”

Halimah menangis, ia lari kekamarnya ada sesuatu yang janggal yang ia rasakan, pertama mistery rumah ini dan misteri si Tuan rumah yang keras kepala, mengapa ia mau dianggap setan padahal ia adalah orang baik.

Halimah kembali kedalam kamar, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat senja menjelang, pelan ia pandangi kamarnya, ia menuju ke sebuah rak buku yang berada persis disebelah nakas, buku-bukunya tersusun rapih, ia bersyukur ia menemukan hiburan, ia meraba susunan buku yang tersusun rapi didalamnya, dan saat ia mengambil salah satu buku, bisikan itu pun terdengar.

“HALIMAAHHH..!”

“Hah..!” Halimah kaget, suara bisikan itu adalah suara perempuan ia sangat yakin. Ia seperti berbisik ditelinga sebelah kanannya. Tak sengaja ia menjatuhkan buku yang berada digenggaman, ia melompat ke atas ranjang dan berdzikir.

“Astaghfirullah..astaghfirullah..astaghfirullah..” mulutnya tak berhenti berdzikir, ia duduk diatas ranjang seraya menutup mata juga telinganya karena syok dan ketakutan dan saat ia membuka mata, seorang wanita berbaju putih dengan rambut terurai terlihat sedang menggendong bayi dihadapannya, Halimah melotot, badannya kaku, bibirnya beku, nafasnya terengap egap, jantungnya berdegup kencang dan pelan kepalanya bergerak lalu dengan cepat ia menyambar  “HAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” Halimah berteriak.

Teriakannya menyeruak membangunkan Rhandra yang sedang tertidur pulas, Rhandra berlari, begitupun Sum juga Darmin semua kaget mendengar teriakannya. Rhandra menemuinya Halimah dalam keadaan ketakutan diatas kasur.

“kenapa kamu Halimah?” rutuk Rhandra yang kesal mendengar teriakannya.

Spontan Halimah meloncat dari kasur dan memeluknya, pelukan pertama dari seorang wanita, pelukan yang begitun hangat, Halimah tak berkata sedikitpun, jari-jarinya meremas punggungnya hingga berbekas, Rhandra berusaha melepaskannya namun Halimah semakin erat memeluknya, Sum dan Darmin melihat mereka, sebelumnya mereka tak pernah melihat Rhandra tuan muda yang sudah mereka anggap sebagai anak mendekati makhluk lain selain mereka, hari itu Halimah menjadi bidadari yang turun untuk menyinari kegelapan dihatinya.

“Lepaskan Halimah,”teriak Rhandra berupaya melepaskan cengkramannya

“Tolong jangan tinggalkan saya, tolong saya takut sekali, tolong, wanita itu terus menerus memanggil nama saya, tolong..!”  Rhandra luluh, melihat Halimah yang begitu kacau, matanya gelap, juga pelukannya yang erat.

“Tidurlah Halimah.”

Tanpa Halimah sadari, ia tertidur dipangkuan Rhandra Tangannya masih meremas kaosnya dengan erat, Halimah Syok ketakutan, Rhandra melihat Halimah dari dekat, jantungnya berdebar sangat cepat, 

Halimah dibekali wajah menawan dari sang Ilahi, yang jelas membuat semua mata yang memandang takjub dibuatnya, bibirnya yang mungil berwarna merah muda, matanya bundar dengan hitam mata yang pekat dan putih mata yang bersih, bulu mata yang lentik, dan tampak seperti selalu memakai celak, ia begitu cantik bagai bidadari di khayangan.

Rhandra tergoda belum pernah seumur hidupnya ia menyentuh wanita dan apalagi sedekat wanita seperti saat ini,  Halimah tidur dan tak sadarkan diri dipangkuannya, ia begitu syok dengan apa yang ia dengar dan ia lihat baru saja.

Perlahan Rhandra mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat, ia buka peniti hijabnya yang dua hari ini tak ia lepas, ia biarkan angin berhembus kesekitar lehernya, hijab itu pun terbang terhembuh angin, Rhandra melepaskannya dan membiarkan rambutnya terurai, rambutnya panjang dan lurus, lehernya  jenjang sangat cantik jika ada sebuah liontin yang terpasang disana, pikirnya. Telinganya caplang mirip dengannya namun tak ada hiasan anting juga yang menghiasi telinganya yang indah.

Begitu Halimah pulas, Rhandra beranjak pergi dan meninggalkannya sendiri, Halimah tertidur pulas sore itu dan Rhandra menyimpan kesan yang mendalam dihatinya.
Rhandra terdiam lama di depan kamar Halimah, ia memegang dadanya yang terus bergetar, belum pernah ia merasakan perasaan seperti itu sebelumnya, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.

“Den..”

“Heh..ya Mbok.”

“Non Halimah kenapa Den?”

“Mbok minta pak Darmin untuk menutup jendelanya dengan paku, dan tambahkan jumlah lampu dikamarnya setiap malam, dan malam ini saya mau makan di meja makan Mbok.”

“Nggih Den.”

Mbok Sum tersenyum melihat perhatian Rhandra pada Halimah, belum pernah ia melihat Rhandra seperti ini,  dan untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 20 tahun lamanya akhirnya ia mau makan diruang makan. Halimah tertidur cukup pulas, dua malam ia tak bisa memejamkan mata, namun hari itu ia sangat merasa aman, sosok Rhandra memberikan rasa nyaman di hati kecilnya.

*
(Back to episode 1, cerita disini langsung loncat kelanjutan episode 1)

Halimah menuju ke ruang kerja yang dibilang masih berantakan itu, ruangannya berada di lantai dua lorong sebelah kiri dari tangga, dan kamarnya berada dilorong sebelah kanan. Ditemani Mbok Sum, ia membersihkan ruangan yang menjadi tempat favorite Rhandra suaminya, ruangan itu dipenuhi dengan buku-buku disekeliling dindingnya, sebuah meja ditengah dan lampu meja, tidak ada jendela disana.

“Mbok..kenapa hanya Rhandra yang boleh menyalakan lampu?” tanya Halimah heran.

“Karena hanya ruangan Den Rhandra yang tak berjendela, semua ruangan yang ia tempati tidak memiliki jendela, makanya ia bebas menggunakan lampu, ia tak ingin ada orang yang tau bahwa rumah ini masih berpenghuni makanya diruangan lain hanya boleh dipasang lilin atau lampu minyak yang sinarnya masih kalah dengan sinar rembulan.” Halimah semakin penasaran dengan alasan Rhandra yang tak ingin orang tau akan keberadaannya.

“Tapi hari ini Den Rhandra, meminta pada si mbok untuk menambah lampu minyak dikamar Non.”

“Kenapa?”

“Sepertinya ia khawatir sama Non.”

“Dug,,dug,,dug,,” Halimah terperangah “Suara apa itu Mbok?”

“Pak Darmin sedang memaku jendela Non, biar cahaya dari dalam tidak keluar.”

“Apah?” mendengar penjelasan Mbo Sum, Halimah berlari ke arah kamarnya ia tak bisa membiarkan Darmin menutup mati jendelanya, jendela itu adalah sumber kehidupan baginya, Asma Allah jelas berada di ukiran itu.

“Berhenti pak.” Teriak Halimah menghalangi.

“Ya Non, maaf saya diminta Aden untuk menutupnya dengan kayu.”

“Jangan pak Darmin, biarkan jendela itu seperti itu saya mohon.”

“Maaf Non, Aden meminta saya untuk menutupnya.”

“Jangan Pak Darmin saya mohon.”

“Kenapa kamu suka sekali buat keributan!” rutuk Rhandra kesal yang tiba-tiba datang kekamarnya. Halimah terdiam

“Kamu tidak bisa menutup jendela itu!” rutuk Halimah, wajahnya memandang Rhandra, matanya melotot.

“kenapa?”

“Hanya itu yang bisa membuatku tenang, aku tak bisa hidup tanpa sinar matahari seperti kamu, aku manusia normal.”

“Apa kamu bilang?” Tubuh Rhandra mendekat, ia membalas tatapan Halimah yang tajam kepadanya.

“Pak Darmin, ikuti apa maunya, dan kurangi cahaya dikamar ini, jangan teriak kalau kamu ketakutan, camkan itu!” lanjutnya.

Rhandra berpaling, Halimah merasa benar dengan apa yang sudah ia katakan. Halimah menarik nafas panjang, ia membayangkan suasana gelap dikamarnya belum lagi saat lilin itu tertiup angin, itu pasti akan sangat lebih menakutkan, sejenak ia menyesali perbuatannya.

Malam itu, Halimah tak tidur ia bersama Mbok Sum masih sibuk membenahi ruang kerja Rhanda yang berantakan, sosok Rhandra memang sangat membuatnya penasaran buku-buku diruangannya tergeletak tak beraturan, beberapa diantaranya ada buku-buku yang membahas tentang keTuhanan, alam ghaib, ilmu kedokteran dan banyak lagi, ia melahap habis semua buku yang ada.

“Mbok, apa ini yang ia kerjakan setiap hari? Membaca buku?”

“hmm.. si Mbok diam tak menjawab, Non sudah malam si Mbok ngantuk, apa boleh kita lanjutkan besok?”

“Oh ya mbok,, maafkan saya ya mbok.”

“Ngga apa-apa Non, mbok pamit ya non.”

“Nggih Mbok.”

Halimah melanjutkan sisa pekerjaan yang tinggal sedikit. Halimah melangkahkan kakinya menuju kekamar semua lorong gelap, tak bercahaya hanya sinar rembulan yang membantu menuntunnya berjalan, ia membayangkan bagaimana jika tidak ada rembulan, bagaimana mungkin mereka bisa bergerak? Misteri itu selalu menghantuinya.

Halimah berdiri dipersimpangan antara lorong menuju kamarnya dan tangga menuju keatas juga lantai bawah disebelah kanannya, ia sungguh penasaran apa yang dilakukan Rhandra diatas sana, kenapa ia menghabiskan masa hidupnya hanya untuk mengurung diri.

Pelan Halimah melangkahkan kakinya menuju anak tangga, ia berjalan sangat pelan dan mendadak ia teringat dengan perkataan si Mbok, “Rhandra tak mengizinkan siapapun naik ke lantai tiga”, Halimah kemudian memutar balik badannya dan mengejutkan seorang wanita melintas dihadapannya, wanita yang sama persis yang ia lihat tadi siang, rambutnya hitam berantakan panjang hingga sepinggang, pakaiannya putih bagai kain kafan.

Halimah melotot dan terpaku melihatnya, kakinya membeku, berat baginya untuk melangkah maju, Jantungnya berdegup kencang dan tiba-tiba “HALIMAAAHH..” “Halimaah..” “Halimaaah” Bisikan itu terjadi lagi, Halimah meliuk dianak tangga, ia sangat ketakutan tangisannya pecah, wanita itu terus menerus memanggil namanya. “Halimaah..Halimaaah..”

“Pergi,,saya mohon pergi jangan ganggu saya.. Astagfirullah..Astaghfirullah..pergi Jangan ganggu saya.. pergi..”Halimah menutup mata dan telinganya erat, ia menggoyang- goyangkan kakinya karena takut.

Tiba-tiba seseorang menyentuh tangannya, Halimah semakin takut, ia semakin mengepal tangannya dan semakin meliukkan badannya

“Halimah!” Suaranya terdengar nyata dan tegas.

“Hah..!” Halimah membuka matanya, “Rhandra!” spontan ia memeluk laki-laki yang berada dihadapannya. Rhandra bisa merasakan jantung Halimah berdegup sangat kencang, kedua kalinya ia merasakan desiran kuat dihatinya, Halimah memeluknya sangat erat, tubuh Halimah berkeringat, dan mulutnya tak berhenti menyebutkan kata

“Astagfirullah..Astagfirullah.” Namun Rhandra sama sekali tak bergeming biasanya ia akan marah mendengarnya namun malam itu ia biarkan Halimah merasa tenang dipelukannya.

“Halimah!” tegurnya.

“Hah..” Halimah terperanjat “Maaf. maaf.” Halimah pun berlari meninggalkannya menuju kekamarnya.

Rhandra terdiam sejenak ia melihat Halimah lari ketakutan meninggalkannya, ada keinginan yang sangat dalam untuknya agar bisa tidur sekamar dengannya melindunginya, menenangkannya. Rhandra menggelengkan kepala memikirkannya, perasaan aneh itu datang kembali mengganggu relungnya.

Malam itu Halimah kembali terjaga, ia belum terbiasa dengan semua ini. Wanita itu terus menghantuinya, sepertinya ia adalah penghuni kamar yang ia tempati saat ini. Halimah meringkuk ketakutan di kamarnya ia memperhatikan setiap gerak-gerik yang nyata di kamarnya,

Tak lama knop pintu kamarnya terbuka, ruh Halimah semakin ketakutan, air matanya terus mengalir, raganya bagai es yang bisa hancur dalam seketika.

“Rhandra..!” Laki-laki itu masuk kedalam kamarnya, Halimah membisu, bibirnya  biru, badannya sangat dingin, ia terpaku melihat Randra dihadapannya, ada perasaan senang karena setidaknya ada seseorang yang menemaninya, namun jiwanya yang lain menolak kehadirannya malam itu, karena Halimah belum siap satu ranjang dengannya, meskipun Rhandra memiliki hak kapanpun ia mau ia bisa saja mendatanginya sesukanya ia berhak atas diri juga kehormatannya.

“Tidurlah, aku akan menemanimu.” Halimah tercengang, ia kaget dengan prilaku Rhandra malam ini, ia menggeser dan tidur membelakanginya, kelakuannya tidak seperti laki-laki lain yang haus akan wanita, Halimah begitu senang Rhandra tak berusaha menyentuhnya. Mereka berdua berada diatas satu ranjang yang sama, ranjang yang berukuran 200cm itu menjadi saksi akan kebisuan mereka.

Rhandra tidur meliuk disisi kanan membelakangi Halimah, dan begitupun Halimah tertidur di posisi sebelah kiri menghadapnya, ada jarak satu meter lebih diantar mereka, mereka tak saling menatap, juga saling bicara. Malam itu Rhandra datang hanya untuk membuatnya nyaman dan tertidur dengan tenang. Seketika semua suara yang menganggu Halimah hilang bagai terhembus angin.

#BERSAMBUNG

0 Response to "Menikah Dengan Setan - Part 5"

Posting Komentar