Menikah Dengan Setan - Part 2

MENIKAH DENGAN SETAN

PART 2 SATU BULAN SEBELUM

Alunan ayat suci sendu terdengar di tengah keheningan malam. Gelapnya malam tak terlalu tampak dengan tertutupnya jendela dengan kain tipis berwarna putih dikamarnya. Cahaya lampu menjadi begitu mempesona ketika malam tanpa mentari dan hanya rembulan yang datang dengan sinar tanpa silau.

Mulut Halimah semangat melantunkan ayat-ayat Tuhan, tak sedikit yang mengatakan suaranya terdengar amat merdu, ia terkenal didesanya sebagai guru ngaji di surau masjid Pendopo desa, 5 kali dalam seminggu ia mengajar setiap harinya, dan ia harus mengayuh sepeda menuju surau yang kurang lebih 10 kilometer dari rumahnya, melewati lembah perbukitan lalu turun mengikuti arus sungai mengalir.

Desanya memang sangat terpencil, setiap warga pasti memiliki kendaraan roda dua tak bermesin, hanya orang-orang mampu dan sugih(kaya)  saja yang mampu membeli kendaraan bermesin.

Desa kecil di kaki gunung lawu ini adalah desa terakhir dari semua desa yang menuju kekota, udaranya sangat dingin kadang kabut datang lebih awal dari semestinya, pukul delapan malam kabut-kabut itu akan berkumpul membuyarkan pandangan, tak satupun warga desa yang berani keluar dari rumah, mereka sibuk bershalawat, bertasbih, dan ada pula yang bersemedi, mandi kembang dan banyak lagi ritual lainnya yang dilakukan saat malam sudah menjemput.

Halimah konsisten, sehabis Isya ia habiskan waktunya untuk menderes bacaan quraannya dirumah bersama dua adik laki-lakinya dan ibunya yang renta.  Malam itu langit cerah bintang tersenyum menyambut alunan suaranya yang merdu, bulanpun meruncingkan sabitnya dan membentuk sebuah lengkungan indah untuk menunjukkan indahnya kebesaran Tuhan.

““shadaqallahul Adzim” (Maha benar Allah Yang Maha Agung ...) Ucapnya terakhir seraya mencium mushaf bersampul emas yang ada digenggamannya.

“Nduk.., kenapa kamu berhenti nduk… ?” teriak ibunya dari ruang tengah, ia sedang sibuk menjahit dan kedua adiknya sedang sibuk belajar. Tak ada TV dirumahnya yang bisa membantu hari-hari mereka ceria. Hanya ada beberapa tumpuk buku peninggalan ayahnya, mesin jahit tua milik ibunya dan dua buah sepeda ontel satu miliknya, dan yang satu milik mendiang Ayahnya yang sekarang dipakai Sur dan Dwi kedua adiknya.

“Sebentar lagi Ustad Haikal mau datang bue” Jawabnya girang.

“Loh ada apa Ustad Haikal datang malam-malam nduk?”

“Ada yang mau dibicarakan katanya bue, sama bue dan aku.”

“Wah serius banget toh?, kamu sms dia nduk jangan malam-malam tidak enak dengan tetangga.”

“Nggih bue.”

Tak lama suara motor terdengar tiba di pekarangan mereka, kebanyakan orang kampung masih mengendarai RX King, suaranya memang kurang enak terdengar namun tarikannya untuk melewati perbukitan perlu diberikan bintang. Ustad Haikal turun dari motor, ia bersama ustad Sholih pengurus surau tempat Halimah mengajar., lalu kemudian Faisal sahabatnya menyusul dari belakang.

“Assalamualaikum..” Suaranya yang tebal itu terdengar, menggetarkan hati Halimah yang sedang bersiap memilih kerudung terbaik.

“Waalaikumsalam.”jawab bu Nun, menyambut mereka dengan senyuman yang hangat. Suasana malam itu begitu syahdu.

“Nduk, ada tamu..”

“Nggih bue." Halimah keluar dengan membawakan dua buah cangkir teh hangat dan menyajikannya diatas meja, Halimah mengenakan kerudung berwarna putih, wajahnya terlihat begitu ayu, bulu matanya yang lentik, juga bibirnya yang mungil mampu membuat aliran darah laki-laki menjadi panas melihatnya.

Haikal memandanginya sejak ia masuk dari ruang tengah menuju ruang depan, ia sungguh terkesima dengan kecantikan Halimah yang sebelumnya tidak pernah bersolek, jangankan gincu bedakpun barang kali tak pernah ia pakai.

“Diminum mas.” Ucapnya suaranya terdengar bening.

“Oh iya.. “ Haikal gugup mengambil cangkir yang sudah ia bawa.

Haikal adalah Putra dari Pak Anggoro Saputra keluarga ningrat didesa mereka, ia sudah menaruh hati sejak lama oleh Halimah, setiap hari ia datang mengunjungi Halimah ke Surau bersama sahabatnya Faisal, pertama kali ia mengenalnya saat Halimah mengajukan diri untuk mengajar disurau tempat ia bekerja.  Saat itu ia baru menyelesaikan studinya di Mesir, satu-satunya putra desa terbaik yang mendapat gelar Lc.

“Langsung saja bu Dasinun, kedatangan saya kemari bermaksud baik, ingin bermaksud menyempurnakan agama Allah, saya membawa Ustad Sholih juga sahabat saya untuk bisa menyaksikan, bahwa saya Haikal Saputra bermaksud ingin melamar putri ibu, ingin menjadikan ia istri saya, ingin bermaksud memindahkan semua beban dipundaknya ke pundak saya, ingin bermaksud berbagi keceriaan juga kesedihan bersamanya“ Jelasnya menunduk malu, sesekali ia memandang wajah Halimah dari cermin kaca meja yang memantul karena cahaya lampu malam yang menderang.

Mata Dasinun berkaca-kaca, wanita yang tak lagi muda itu sangat terharu mendengar perkataannya, ia tak menyangka putrinya yang hanya seorang guru ngaji dan putri dari seorang tukang jahit bisa dilamar oleh putra ningrat lulusan Mesir pula. Dasinun menatap kedua mata putrinya itu, Halimah menangis

“Semua tergantung kamu, kamu menerima?” tanyanya terisak.

“InsyaAllah.. Halimah terima bue..”

“Alhamdulillah..!” Semua mengucap syukur pada keagungan Allah, Haru juga senang bercampur aduk menjadi satu.

Sesekali mata mereka bertemu, dan aliran darah pun langsung panas, hati berdesir parah, sepasang manusia itu sudah tak sabar ingin memadu kasih.

“Lalu kapan, Mas Haikal mau membawa keluarga kesini?”

“Rencananya tidak usah lama-lama, bue. Semua keluarga saya sudah setuju dengan Halimah, insyaAllah jika Halimah mau bulan depan kami sudah bisa melangsungkan akad nikah, bue tidak perlu memikirkan biayanya, semua biaya keluarga kami yang akan menanggungnya.” Terangnya kembali membuat hati Halimah semakin berbunga-bunga.

“MasyaAllah..!” Dasinun mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, pipinya basah mendengar rencana yang ditarakan laki-laki bertubuh tegap itu.

“Kalo gitu, Bue ikut saja. Bue doakan semoga lancar hingga hari pernikahan.”

Pertemuan sakral itu pun berakhir, Halimah mengantar Haikal kedepan rumah. Wajahnya masih menunduk malu, ia tak sanggup melihat wajah Haikal yang sejak tadi serius mengamatinya.

“Dek.. insyaAllah besok mas akan pergi untuk menjemput Bue mas di Jakarta, tidak lama dari itu kita akan segera menikah.” Ucapnya yakin.

“Nggih mas.” Jawabnya lembut, mendengarnya jantung Haikal berdegup kencang, bisikan setan mengalir dialiran darahnya memaksanya untuk segera memeluk tubuh mungil itu.

“Astagfirullah”Batinnya berbisik

“Mas pulang dulu ya.., Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam..”
*
Hujan mengguyur pagi hari yang elok. membuat hari semakin dingin. begitu dingin sekali. Halimah terbangun ia menyiapkan sarapan sebelum adzan subuh berkumandang, setelah itu adik-adiknya ia bangunkan begitupun ibunya yang selalu terlihat lelap dalam tidurnya, dan sesekali ia membersihkan kotoran - kotoran yang menyelip di sebuah indra pengeliatan Dasinun ibunya.

Adzan shubuh berkumandang, mereka sholat berjamaah setelahnya mereka berdzikir, bershalawat memohon pertolongan juga rahmat pada sang pemilik bumi. Tak lama Matahari menebarkan cahayanya, rumput-rumput merekah, pepohonan mulai menampakkan siluet indahnya melalui bayangan yang tergambar ditanah,  dingin itu rindu akan hangat, mereka rindu kehadiran matahari menghangatkan setiap tubuh mereka yang menggigil semalaman.

 “Alhamdulillahirobbilalamin..” Bisik Halimah dalam hati. Ia pun mulai melanjutkan aktivitasnya, ia mengayuh sepedanya dengan penuh semangat, jalan-jalan itu sudah dipenuhi dengan petani yang berjalan menuju ladang mereka masing-masing.

“Assalamualaikum bu guru..!” Sapa mereka dari jauh.

“Waalaikumsalam, ..” jawabnya dengan senyum yang merekah.

Ini adalah aktivitas hari-harinya, setiap hari ia harus melewati jalan-jalan perbukitan, untuk bisa sampai di Surau tempatnya mengajar, dua kilometer dari rumahnya ia pasti akan bertemu dengan anak –anak nakal yang bergerombol memanjat sebuah rumah tua persis diujung jalan mereka hanya memanjat lalu berteriak dengan kencang  “Woi .. Setan Metuu (keluar)..!”

“Wusss,,,turun,,,!” Halimah berteriak , ia turun dari sepedanya dan mengusir mereka. Rumah itu sangat besar dan berada persis diatas perbukitan, sehingga Nampak seperti istana jika dilihat dari jauh, Halimah tau rumah ini ada penghuninya, pernah sekali ia merasa melihat seorang laki-laki berdiri di kaca jendela kamar lantai dua. Warga desa menyebutnya penampakan.

Menurut informasi yang ia dapat dari warga desa, laki-laki yang tinggal didalam gedong tua itu adalah jelmaan jin, yang akan keluar setiap jam delapan malam, jam dimana semua warga desa sudah masuk rumah, orang yang berjumpa dengannya pasti akan sial, hidupnya akan sengsara dijauhi banyak orang dan akan mati secara menyedihkan. Halimah adalah satu-satunya dari warga desa yang tak mempercai hal tersebut, baginya desanya sudah tercemar dengan banyaknya ajaran-ajaran perdukunan. Sehingga argument-argument tentang gembala jin, mandi kembang, babi ngepet sudah sering ia dengar.

“Haduuh…” Seperti biasa, ia mengangkut bebatuan yang berada persis di muka gerbang rumah tua itu, batu-batuan yang setiap hari anak-anak nakal itu lemparkan. Bulu kuduknya merinding, jantungnya berdegup kencang , lagi-lagi ia merasa ia sedang diperhatikan dari arah jendela kamar lantai dua.

“Assalamualaikum Halimah..” Sapa seseorang memegang pundaknya,

“Hah!” spontan ia teriak ketakutan “Faisal.?” Jawabnya seraya memegang pundaknya yang baru saja ia sentuh.

“Oh maaf Halimah, saya lupa kalo kita bukan mahrom, maafkan saya saya sudah terbiasa menyapa teman-teman saya di Jakarta seperti itu.”

“Iya tidak apa-apa.”

“Halimah.” Sapanya kembali,

“Ada apa?”tubuhnya mendekat, batinnya berbisik apa yang hendak ia lakukan.

“Ngga apa-apa, kamu sangat cantik, Haikal dan kamu sangat cocok.”

Halimah tersenyum tipis, “terimakasih, Saya pamit ya mas faisal” wanita itu kembali mengayuh sepedanya, dan meninggalkan Faisal juga gedong tua yang penuh dengan misteri.

Hampir setiap hari saat Halimah melewati Gedong tua itu ada perasaan takut yang amat mendalam, ia merasa seseorang sedang memperhatikannya, laki-laki bertubuh besar itu seperti sedang menatapnya dari jauh, ia hanya berharap jika mitos itu benar, semoga kebaikannya setiap hari untuk membersihkan bebatuan di depan gerbang rumahnya bisa menjauhkannya dari kesialan.

Halimah terburu-buru, ia mengayuh dengan cepat dan benar apa yang ia rasakan laki-laki yang orang bilang jelmaan jin itu sejak tadi berdiri memperhatikannya dari jauh, pandanngannya kosong dan ada kebencian diwajahnya, kegelapan menyelimuti wajahnya. 

#bersambung

0 Response to "Menikah Dengan Setan - Part 2"

Posting Komentar